Mobil yang digolongkan mini di Jepang memiliki kapasitas mesin 660 cc
dengan ukuran bodi 3,40 m x 1,48 m x 2,00 m, berpenumpang 4 orang,
serta daya angkutnya maksimal 350 kilogram. Nama mobil jenis ini di
Jepang di antaranya Move, Tanto, Mira eS dan sedan sport keluaran
terbaru, Copen.
Copen merupakan mobil konvertibel yang atapnya
dapat dibuka dan ditutup. Tampilannya luks dan sporty. Umumnya, mobil
konvertibel bertenaga besar dengan teknologi mutakhir. Karena itu
harganya selangit. Seperti Ferrari, Mini cooper, dan Mercedes Benz.
Namun, kapasitas mesin Copen sangat kecil, 660 cc dengan tampilan
mewah.
Mobil mini di Indonesia yang diproduksi Daihatsu, dikenal dengan LCGC (low cost green car), mobil murah dan irit bahan bakar. Melalui PT Astra Daihatsu Motor, mobil mini itu diberi nama Ayla dan Agya (Toyota). Bedanya, mesin Ayla-Agya berkapasitas 1.000 cc.
Sedangkan di Malaysia, melalui Perodua, mobil mini Daihatsu diberi merek Viva. Mobil murah ini dibanderol sekitar Rp 100 juta, hampir setara dengan harga Ayla. Viva memiliki 3 silinder dengan variasi kapasitas mesin 660 cc, 850 cc dan 1.000 cc. Mobil ini disebut-sebut sebagai "mobil nasional" Malaysia. Selain Viva, Malaysia juga mendatangkan mobil mini dari principal Jepang, yaitu Mira eS.
“Mobil mobil mini menjadi peluang sekaligus solusi tingginya harga bahan bakar,” kata Presiden Direktur Daihartsu Motor Comopany Masanori Mitsui saat menerima kunjungan wartawan Indonesia, termasuk Tempo, Selasa, 9 Juni 2015. Mobil mini Mira eS, 1 liter bahan bakar mampu menempuh jarak 35,2 kilometer.
Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor, Sudirman Maman Rusdi, menjelaskan Ayla-Agya diproduksi di Indonesia dengan kandungan lokal mencapai 85 persen. Alasan kapasitas mesin lebih besar dibanding mobil mini yang diproduksi di Jepang, kata Sudirman, karena disesuikan dengan kondisi medan di Tanah Air. “Di Indonesia tidak cocok mobil kapasitas mesin 660 cc,” kata Sudirman--

